Logo HMI

HMI KOMISARIAT TARBIYAH

UIN RADEN INTAN LAMPUNG

PERIODE 2025-2026
opini

Saat Mimbar Tak Lagi Cukup: HMI di Era 4.0

hmikomtaruinril, Rahmat kausar, 02 March 2026 —

Dulu, eksistensi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diukur dari seberapa keras suara kita di jalanan atau seberapa tajam perdebatan kita di ruang-ruang diskusi komisariat. Dulu, memperkenalkan organisasi berarti "jalan-jalan"—turun langsung, menyebar pamflet fisik, dan bertatap muka satu per satu. Cara itu sakral dan bersejarah, namun kita harus jujur pada diri sendiri: zaman telah berubah.

Hari ini, "jalanan" telah berpindah ke algoritma. "Mimbar" telah bertransformasi menjadi layar gawai.
Di era di mana hampir setengah populasi Indonesia (sekitar 130 juta jiwa) adalah penghuni aktif media sosial, bertahan dengan cara lama bukan lagi soal idealisme, melainkan langkah menuju ketertinggalan.

Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, sejarawan HMI yang kita hormati, pernah menuliskan peringatan keras dalam bukunya "44 Indikator Kemunduran HMI". Beliau berujar:
“Organisasi besar dan modern seperti HMI sangat disayangkan apabila tidak memiliki media yang representatif sebagai penghubung antar aparat, antar anggota dan pengurus, serta sebagai wadah penyaluran ide dan pemikiran.”

Kutipan ini bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan alarm bahaya. Jika di masa lalu ketiadaan media cetak adalah masalah, maka di masa kini, kebisuan di media sosial adalah lonceng kematian relevansi.
Tanpa kehadiran digital yang kuat, HMI hanya akan menjadi nama di buku sejarah, bukan pemain utama di masa depan. Kita butuh wadah penyaluran ide yang melampaui tembok sekretariat, yang mampu menembus batas ruang dan waktu melalui satu kali klik.

Banyak kader terjebak dalam persepsi keliru bahwa perjuangan di HMI hanyalah soal mengejar jabatan struktural—menjadi Ketua Umum, Sekum, atau Kabid. Padahal, seperti yang disuarakan dalam banyak diskursus HMI kontemporer, hakikat kaderisasi adalah kebermanfaatan, bukan sekadar jabatan.
Di sinilah peran Digital Branding masuk sebagai medan juang baru.

Branding bukan sekadar menempel logo hijau hitam di poster kegiatan. Mengutip Gesang Manggala Nugraha Putra (UNAIR), branding adalah soal "Kesan". Kesan apa yang ingin kita tanamkan di benak mahasiswa baru dan masyarakat umum tentang HMI? Apakah organisasi yang kaku dan eksklusif? Atau organisasi intelektual yang solutif, humanis, dan adaptif?

Media sosial adalah alat paling efektif untuk melakukan counter-narrative terhadap stigma negatif. Konten kita adalah senjata kita. Ketika kita diam, orang lain yang akan mendefinisikan siapa kita—dan seringkali definisinya salah.

Dunia hari ini tidak menanyakan "Apa jabatanmu di HMI?", tetapi dunia bertanya "Apa gagasannmu dan bagaimana kamu menyampaikannya?" Kader HMI harus menjadi Intelektual Organik yang melek digital. Kita tidak sedang merendahkan sakralnya tatap muka, kita sedang memperluas arena pertarungan. Mari ubah mindset kita. Jadikan media sosial sebagai mimbar baru untuk menebar nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Jangan biarkan HMI hanya menjadi cerita masa lalu yang hebat. Mari pastikan HMI tetap relevan, tetap berdenyut, dan tetap memimpin di era digital ini.

Yakin Usaha Sampai
KEMBALI KE LIST BERITA